Selasa, 07 Mei 2013

Pengajaran Sastra Indonesia Di Sekolah



Pengantar
Pengajaran bahasa dan sastra Indonesia di berbagai jenjang pendidikan selama ini sering diaggap kurang penting dan dianaktirikan oleh para guru, apalagi pada guru yang pengetahuan dan apresiasi sastra (dan budayanya) rendah. Hal ini menyebabkan mata pelajaran yang idealnya menarik dan besar sekali manfaatnya bagi para siswa ini disajikan hanya sekedar memenuhi tuntutan kurikulum, kering, kurang hidup, dan cenderung kurang mendapat tempat di hati siswa. Padahal, bila kita kaji secara mendalam, tujuan pengajaran bahasa dan sastra Indonesia di sekolah dimaksudkan untuk menumbuhkan keterampilan, rasa cinta, dan penghargaan para siswa terhadap bahasa dan sastra Indonesia sebagai bagian dari budaya warisan leluhur.
Dengan demikian, tugas guru bahasa dan sastra Indonesia tidak hanya memberi pengetahuan (aspek kognitif), tetapi juga keterampilan (aspek psikomotorik) dan menanamkan rasa cinta (aspek afektif), baik melalui kegiatan di dalam kelas ataupun di luar kelas. Makalah ini mencoba mengulas beberapa hal yang berkait dengan realitas sastra Indonesia saat ini, dampaknya terhadap pengajaran, serta alternatif jalan keluarnya. Ulasan ini diharapkan dapat menggugah kembali kesadaran kita untuk menempatkan pengajaran sastra Indonesia pada tempat yang layak dan sejajar dengan mata ajar lainnya.

Realitas Sastra Indonesia dalam Masyarakat Indonesia Kini
Sastra dianggap kurang penting dan kurang berperan dalam masyarakat Indonesia hari ini. Hal ini terjadi karena masyarakat kita saat ini sedang mengarah ke masyarakat industri sehingga konsep-konsep yang berkaitan dengan sains, teknologi, dan kebutuhan fisik dianggap lebih penting dan mendesak untuk digapai. Sedikitnya perhatian anggota masyarakat terhadap kegiatan kesastraan (dan kebudayaan pada umumnya) merupakan salah satu indikasi adanya kecenderungan tersebut. Kegiatan kesastraan (dan kebudayaan) dianggap hanya memberi manfaat nonmaterial, batiniah, sehingga dianggap kurang mendesak dan masih dapat ditunda.

Kondisi di atas juga terjadi dalam dunia pendidikan. Perhatian para murid dan pengelola sekolah terhadap mata pelajaran yang berkaitan dengan sains, teknologi, dan kebutuhan fisik jauh lebih besar bila dibandingkan dengan mata pelajaran kemanusiaan (humaniora). Ketiadaan laboratorium bahasa, sanggar seni, buku bacaan kesastraan, dan berbagai fasilitas lain yang diperlukan dalam pengajaran merupakan bukti konkret adanya kepincangan tersebut.
Bila kita jujur dan masih tetap menganggap pendidikan merupakan upaya lain untuk memanusiakan manusia, perhatian terhadap semua materi ajar di sekolah haruslah seimbang dan saling sumbang. Tawaran untuk menggunakan pendekatan integral dalam pengajaran berbagai materi ajar di sekolah merupakan jalan keluar awal untuk mengakhiri kepincangan selama ini. Sekarang tinggal lagi bagaimana guru menafsirkan konsep integralistik tersebut dan bagaimana pula mewujudkannya dalam kegiatan pembelajaran, khususnya pembelajaran sastra di sekolah sehingga mata pelajaran ini menjadi menarik dan mendapat tempat di hati siswa. Hal-hal yang dapat dilakukan, antara lain sebagai berikut.

Langkah awal yang perlu dilakukan adalah meyakinkan siswa bahwa pengajaran sastra tidak hanya menawarkan hiburan sesaat, tetapi juga akan memberi berbagai manfaat lain bagi siswa. Pengajaran sastra secara langsung ataupun tidak akan membantu siswa dalam mengembangkan wawasan terhadap tradisi dalam kehidupan manusia, menambah kepekaan terhadap berbagai problema personal dan masyarakat manusia, dan bahkan sastra pun akan menambah pengetahuan siswa terhadap berbagai konsep teknologi dan sains. Penikmatan yang apresiatif terhadap puisi, prosa fiksi, drama dalam berbagai genre akan membuktikan kemanfaatan tersebut pada siswa.

Selanjutnya, guru pun harus berusaha mengubah teknik pembelajaran sastra di sekolah. Selama ini pengajaran sastra (dan juga bahasa) Indonesia lebih diarahkan pada aspek sejarah dan pengetahuan sehingga siswa dipacu untuk menghafal, bukan untuk memproduksi atau mengahayati karya yang diajarkan. Tampaknya guru harus kembali melihat dan memahami tujuan pengajaran sastra di sekolah sehingga konsep pengajaran yang apresiatif benar-benar dapat diwujudkan pada masa yang akan datang. Kita memang menayadari adanya kesukaran dalam mengajarkan apresiasi sastra pada siswa yang tingkat keakraban mereka dengan karya sastra relatif kurang. Kita juga menyadari bahwa tidak semua guru memiliki kemampuan apresiasi sastra yang relatif memadai. Namun demikian, guru harus berusaha secara bertahap untuk melatih kemampuan apresiasinya dan berusaha pula mengajarkan apresiasi kesastraan kepada siswa.

Kegiatan apresiasi sastra tidak hanya diajarkan dalam bentuk pembacaan karya sastra oleh siswa. Kegiatan ini dapat juga diwujudkan dalam berbagai bentuk kegiatan dengan berbagai teknik pembelajaran. Kegiatan deklamasi, lomba penulisan puisi, musikalisasi puisi, dramatisasi puisi, mendongeng, pembuatan sinopsis, bermain peran, penulisan kritik dan esei, dan berbagai kegiatan lain dapat dimanfaatkan untuk menumbuhkan apresiasi sastra pada siswa. Berbagai kegiatan tersebut dijamin akan menumbuhkan penghayatan, pencintaan, dan penghargaan yang relatif baik pada para siswa terhadap mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia.

Hal lain yang juga perlu dipikirkan saat ini adalah pemanfaatan dan pengadaan buku/ bacaan kesastraan di sekolah. Pemerintah, di satu sisi, telah berusaha melengkapi buku bacaan untuk para siswa melalui Proyek Pengadaan Buku Bacaan. Meskipun bahan yang dikirimkan ke sekolah belum memadai, guru seharusnya dapat memanfaatkan sarana yang ada itu untuk memancing kreativitas membaca dan mencipta pada siswa. Di samping itu, guru dan pihak sekolah harus juga berusaha membeli bacaan lain, seperti surat kabar, kumpulan puisi, dan berbagai media lain yang harganya relatif murah. Untuk kepentingan pengajaran sastra di Aceh, misalnya, guru cukup membeli harian Serambi Indonesia edisi Minggu, atau harian-harian lain yang edisi khususnya memuat/membahas masalah kesastraan/kebudayaan. Alternatif ini diharapkan dapat membantu mengisi ketiadaan sumber belajar yang selama ini menjadi kendala dalam pengajaran sastra.

Kendala lain yang tampaknya juga perlu dicarikan pemecahannya adalah sistem evaluasi pengajaran sastra (dan bahasa) yang cenderung ke aspek kognitif/pengetahuan. Selama ini, ulangan caturwulan dan ebtanas memang lebih terfokus pada evalusi pengetahuan para siswa. Guru tidak perlu berkecil hati dengan kondisi ini. Kalau mau, evaluasi yang mengarah ke penumbuhan keterampilan dan apresiasi masih dapat dilaksanakan di berbagai kesempatan lain di luar dua bentuk evaluasi di atas. Evaluasi keterampilan dan apresiasi siswa ini dapat saja dilakukan melalui penugasan di rumah, kegiatan ekstrakurikuler, dan berbagai kegiatan lain. Sekarang tinggal lagi mau atau tidakkah guru bahasa/guru kelas memanfaatkan kesempatan itu untuk evaluasi yang tidak hanya mengagungkan aspek hafalan pada siswa. 

Terakhir, guru bahasa dan pihak sekolah tampaknya juga perlu mengaktifkan kembali sanggar-sanggar siswa di sekolah. Kegiatan sanggar di luar jam belajar secara langsung pasti akan berpengaruh terhadap penumbuhan keterampilan, kecintaan, penghayatan, dan penghargaan yang positif terhadap sastra (dan bahasa) Indonesia pada siswa. Bagaimanapun kita tetap bersepakat bahwa penumbuhan kreativitas, penyaluran bakat/minat, dan pembinaan moral siswa tidak hanya dilaksanakan pada saat-saat belajar secara formal di dalam kelas, tetapi juga melalui kegiatan

0 komentar:

Poskan Komentar