Sabtu, 19 Januari 2013

PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENILAIAN PEMBELAJARAN


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah
Dalam proses pembelajaran tentu adanya suatu penilaian. Secara khusus Pembelajaran bahasa secara komunikatif menekankan pada dikuasainya keterampilan berkomunikasi oleh siswa, yaitu mampu memahami dan menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi.
Pada materi ini, anda akan dibantu memahami dan menggunakan penilaian dalam pembelajaran bahasa Indonesia SD difokuskan pada kemampuan siswa memahami dan menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi dalam kehidupan sehari-hari.
B.      Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka pemakalah dapat merumuskan masalah sebagai berikut:
1.     Penilaian proses dan hasil dalam penilaian pembelajaran bahasa Indonesia SD.
2.     Model penilaian pembelajaran keterampilan bernahasa tulis.
3.     Model penilaian pembelajaran keterampilan berbahasa lisan.
4.     Penilaian pembelajaran bahasa Indonesia SD: tes dan nontes.


BAB II
PENILAIAN PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA SD/MI

A.      Pengertian Penilaian
Ada dua istilah terkait dengan konsep penilaian (assesment), yaitu pengukuran (measurement) dan evaluasi (evaluation) (Djemari Mardaphi, 2007). Pengukuran adalah proses penetapan angka terhadap suatu gejala menurut aturan tertentu. Sedangkan evaluasi adalah penilaian yang sistematik tentang manfaat atau kegunaan suatu objek. Dalam melakukan evaluasi di dalamnya ada kegiatan untuk menentukan nilai (misalkan: paham-tidak paham, baik-buruk, atau tuntas-tidak tuntas), sehingga ada unsur judgement. Pengukuran, penilaian, dan evaluasi adalah hirarki. Pengukuran membandingkan hasil pengamatan dengan kriteria, penilaian menjelaskan dan menafsirkan hasil pengukuran, sedang evaluasi adalah penetapan nilai atau implikasi suatu perilaku, baik perilaku individu maupun lembaga.
Pada Permendiknas No 20 tahun 2007 tentang standar penilaian dijelaskan bahwa penilaian adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk menentukan pencapaian hasil belajar siswa. Penilaian tidak sekedar pengumpulan data siswa, tetapi juga pengolahannya untuk memperoleh gambaran proses dan hasil belajar siswa. Penilaian tidak sekedar memberi soal siswa kemudian selesai, tetapi guru harus menindaklanjutinya untuk kepentingan pembelajaran.
Pada Permendiknas No 20 tahun 2007 juga disebutkan bahwa penilaian hasil belajar peserta didik pada jenjang pendidikan dasar dan menengah harus memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut:
a)     Sahih.
b)     Objektif.
c)     Adil.
d)     Terpadu.
e)     Terbuka.
f)      Menyeluruh dan berkesinambungan.
g)     Sistematis.
h)     Beracuan kriteria.
i)      Akuntabel.
1.     Penilaian Proses dan Penilaian Hasil dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Sekolah Dasar
Penilaian dalam pembelajaran bahasa Indonesia sama dengan penilaian mata pelajaran lain, meliputi 3 ruang lingkup, yaitu:
1)     Penilaian program pengajaran (penilaian terhadap tujuan, isi program, dan strategi pengajaran);
2)     Penilaian proses pengajaran (kesesuaian antara rencana dan PBM); kesiapan guru dalam melaksanakan PBM; kesiapan siswa mengikuti PBM; minat dan perhatian siswa; keaktifan dan partisipasi siswa; peranan BP terhadap siswa yang memerlukan; interaksi komonikasi yang terjadi dikelas; pemberian penguatan; pemberian tugas);
3)     Penilaian hasil pengajaran penguasaan siswa terhadap tujuan yang direncanakan.
2.     Penilaian Proses dan Penilaian Hasil Pembelajaran Bahasa Indonesia SD
Dalam menerapkan standar kompetensi guru harus mengembangkan penilaian otentik berkelanjutan yang menjamin pencapaian dan penguasaan kompetensi yang diwujudkan dalam penilaian berbasis kelas. Penilaian berbasis kelas merupakan proses pengumpulan dan penggunaan informasi tentang hasil belajar siswa dengan mengindentifikasikan pencapaian kompetensi dan hasil belajar yang jelas standarnya dan disertai peta kemampuan belajar secara terpadu dengan PBM. Penialain dilakukan melalui Portofolio, produk, proyek, kinerja, atau tes. Dalam Depdiknas  (2005) bahwa penilaian otentik memiliki beberapa syarat, yaitu:
1)     Proses penilaian harus merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses pembelajaran.
2)     Penilaian harus mencerminkan masalah dunia nyata.
3)     Penilaian harus menggunakan berbagai ukuran, metode, dan kriteria yang sesuai dengan karakteristik dan esensi pengalaman belajar.
4)     Penialain harus bersifat holistik, mencakup semua aspek dari tujuan pembelajaran.
Menurut Suparman (2001), penilaian kelas yang tersusun secara terencana dan sistematis oleh guru memiliki beberapa fungsi, yaitu motivasi, fungsi belajar tuntas, fungsi efektifitas, dan fungsi umpan balik.
Tujuh penilaian menurut Sudjiono (2005), adalah:
1)     Untuk memberikan informasi kemajuan hasil belajar siswa secara individu dalam mencapai tujuan sesuai dengan kegiatan belajar yang dilakukan.
2)     Informasi yang dapat digunakan untuk membina kegiatan belajar mengajar lebih lanjut; informasi yang dapat digunakan oleh guru untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa.
3)     Memberikan motivasi belajar siswa, mengimformasikan kemauannya agar teransang untuk melakukan usaha perbaikan.
4)     Memberi informasi tentang semua aspek kemajuan siswa.
5)     Memberi bimbingan yang tepat untuk memilih sekolah atau jabatan sesuai dengan keterampilan, minat, dan kemampuannya.
Untuk dapat melaksanakan penilaian pembelajaran bahasa Indonesia dengan baik, perlu juga diketahui prinsipnya. Secara umum penilaian harus:
1)     Menyeluruh,
2)     Berkesinambungan,
3)     Bermakna,
4)     Berorientasi pada tujuan,
5)     Objektif,
6)     Terbuka,
7)     Kesesuaian, dan
8)     Bersifat mendidik.
Dalam penilaian pembelajaran bahasa Indonesia, penilaian yang dilakukan harus meliputi penilaian hasil belajar bahasa Indonesia dan penilaian proses belajar bahasa Indonesia. Penilaian hasil belajar bahasa Indonesia dapat diperoleh dengan menggunakan evaluasi berupa tes dan nontes. Alat tes berupa soal-soal dan alat nontes berupa tugas-tugas yang diberikan. Evaluasi proses belajar bahasa Indonesia dapat dilakukan dengan observasi, kuesioner, dan sebagainya. Dinyatakan oleh Munandir (1997) untuk mengetahui apakah tujuan atau kompetensi yang dikehendaki sudah dikuasai siswa atau belum, dan seberapa besar tingkat penguasaan tersebut, diperlukan pengukuran dan penilaian. Pada praktiknya ada beberapa istilah yang digunakan untuk pengukuran  dan penilaian, yaitu: pengukuran, tes, penilaian/evaluasi, dan pengambilan keputusan.
Pengukuran adalah suatu kegiatan untuk mendapatkan informasi secara kuantitatif, salah satu alat ukurnya berupa tes hasil pengukurannya disebut skor. Penilaian/evaluasi adalah kegiatan untuk mengetahui apakah suatu program telah berhasil atau belum, mengartikan skor yang diperoleh melalui pengukuran dengan cara membandingkan skor yang diperoleh siswa, mengkaji hasil perbandingan itu, lalu menyimpulkan: memuaskan atau tidak, baik atau tidak, lulus atau tidak, dan seterusnya.
1)     Contoh penilaian proses pembelajaran bahasa Indonesia
Penilaian dilakukan selama kegiatan pembelajaran itu menggunakan lembar pengamatan membaca seperti berikut:
Lembar pengamatan membaca bersuara
NO
NAMA SISWA
Lafal
Intonasi
Kenyaringan
KRITERIA
A
B
C
D
A
B
C
D
A
B
C
D
A: baik sekali
B : baik
C : cukup
D : kurang

2)     Contoh penilaian hasil pembelajaran Bahasa Indonesia
Setelah melakukan kegiatan pembelajaran sesuai dengan skenario/kegiatan belajar-mengajar yang direncanakan, guru melakukan penilaian, misalnya dengan cara berikut:
a.      Penilaian hasil:
1)       Sebutkan gagasan pokok teks bacaan tersebut!
2)       Ceritakan kembali isi teks bacaan dengan kalimat sendiri!
§  Format penilaian untuk menemukan gagasan pokok secara cepat
Nama
Kecepatan
Ketepatan (10-100)
1.      Tina
2.      Toni
3.      Tini
§  Format penilaian untuk menceritakan isi teks secara lengkap
Aspek
Descriptor
Skor (10-100)
Kelengkapan isi
Semua informasi penting terwadahi dalam paragraph yang dikembangkan
Keaslian pengungkapan
Paparan tidak mencotoh teks asli

Dinyatakan dalam Depdiknas (2003) bahwa perekaman kompetensi pada saat berlangsungnya PP dapat dipandang sebagai pengukuran proses, sedangkan apabila hal itu dilakukan sesudah berakhirnya PP dipandang sebagai pengukuran produk/hasil. Ada sejumlah alat/instrument yang dapat digunakan untuk melakukan penilaian dalam pembelajaran bahasa Indonesia, secara garis besar digolongkan 2 macam, yaitu nontes (bukan tes) dan tes.
B.      Teknik Penilaian Pembelajaran Bahasa Indonesia Sekolah Dasar: Tes dan Nontes
Ada sejumlah alat/instrumen yang dapat digunakan untuk melakukan penilaian dalam pembelajaran bahasa Indonesia, secara garis besar digolongkan dalam 2 macam, yaitu tes dan nontes (bukan tes). Pada bagian unit ini dituntut memiliki kompetensi membuat instrumen tes dan dan nontes dalam penilaian pembelajaran bahasa Indonesia SD. Berikut akan diuraikan mengenai:
1)     Teknik tes dalam penilaian pembelajaran bahasa Indonesia SD.
2)     Teknik nontes dalam penilaian pembelajaran bahasa Indonesia SD.
1.     Penilaian Pembelajaran Bahasa Indonesia SD
Secara garis besar, alat penilaian yang dapat digunakan untuk mendapatkan informasi atau data-data mengenai siswa yang dinilai, dibedakan atas teknik tes dan nontes. Bentuk soal ujian yang dipergunakan dapat objektif, esai (nonbjektif) atau tugas-tugas tertentu yang sebaiknya dilakukan siswa diluar jam pembelajaran bergantung pada kompetensi hasil belajar yang akan diukur.
Dinyatakan Alwi (2005, Handout Desain Instruksional) langkah pokok kegiatan evaluasi hasil belajar/penilaian meliputi:
1)     Menyusun rencana penilaian, yaitu:
a)     Merumuskan ntujuan penilaian, sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai dan indikator.
b)     Menetapkan ranah yang akan dievaluasi kognitif, apektif, dan psikomotor.
c)     Menentukan teknik penilaian: tes/nontes.
d)     Menentukan bentuknya: objektif atau esai.
e)     Menyusun alat pengukuran dan penilaian.
f)      Menentukan tolak ukur, norma/kriteria penilaian.
g)     Menentukan frekuensi kegiatan penilaian.
2)     Menghimpun data, yaitu: melaksanakan pengukuran dan penilaian melalui tes, wawancara, atau dengan cara lain.
3)     Melakukan verifikasi/penelitian data untuk menyaring data (memisahkan data yang baik dan yang buruk) sebelum diolah lebih lanjut.
4)     Mengolah dan menganalisis data, yaitu memberi makna terhadap data yang sudah diperoleh, dapat dilakukan menggunakan statistic atau tidak.
5)     Menginterpretasi dan menyimpulkan data yang sudah dianalisis, yaitu: verbalisasi dari makna yang terkandung dalam data yang telah diolah dan dianalisis, selanjutnya dibuat kesimpulan bedasarkan tujuan yang ingin dicapai.
6)     Data hasil evaluasi yang sudah disusun, diatur, diolah, dianalisis, dan disimpulkan, sehingga diketahui ‘ maknanya’ , selanjutnya guru/evaluator dapat menentukan kebijakan yang akan ditempuh: siswa lulus/ tidak lulus, naik/tidak naik kelas, perlu remidi atau pengayaan, dan peringkta siswa.
2.     Bentuk Tes
Secara garis besar bentuk tes atau soal ujian dibedakan menjadi 3 bentuk yaitu, 1) Tes objektif, 2) Tes non objektif, dan 3) Tes perbuatan. Tes bentuk objektif mengacu pada pengertian bahwa jawaban siswa diperiksa oleh siapapun dan kapanpun akan menghasilkan sekor yang kurang lebih sama karena tes objektif hanya memiliki satu jawaban alternative yang benar. Tes esai menunjuk pada pengertian bahwa cara pensekoran hasil pekerja siswa dipengaruhi oleh subjek pemeriksa. Tes perbuatan menuuntut siswa melakukan aktifitas tertentu dan penilaiannya dilakukan dengan cara mengamati performansi berbahasa siswa. Namun, sebelumnya harus sudah dipersiapkan kriteria penilaian agar pengukuran terhindar dari subjektifitas.
a)     Bentuk Tes Objektif
Tes bentuk objektif dapat berupa tes benar salah, pilihan ganda, menjodahkan dan isian singkat. Jawaban tes objektif bersifat pasti dikhotomis. Hanya ada satu kemungkinan jkawaban yang benar dan siapapun yang mengoreksinya akan sama.
b)     Macam Tes Objektif
Jenis tes objektif yang banyak digunakan orang adalah tes jawaban benar-salah (true-false), pilihan ganda (multiple choise), isian (kompletion) dan penjodohan (matching).
3.     Teknik Nontes dalam Penilaian Pembelajaran Bahasa Indonesia
Instrument nontes diantaranya dapat berupa:
a)     Fortofolio
BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
Dalam penilaian pembelajaran bahasa Indonesia, penilaian yang dilakukan harus meliputi penilaian hasil belajar bahasa Indonesia dan penilaian proses belajar bahasa Indonesia. Penilaian hasil belajar bahasa Indonesia dapat diperoleh dengan menggunakan evaluasi berupa tes dan nontes. Alat tes berupa soal-soal dan alat nontes, Berupa tugas-tugas yang diberikan. Evaluasi proses belajar bahasa Indonesia dapat dilakukan dengan observasi, kuisioner, dan sebagainya.
Berkaitan degan kurikulum yang berbasis kompetensi, pada prinsipnya pembelajaran bahasa Indonesia sengaja diselenggarakan  untuk mencapai sejumlah tujuan, berupa berbagai kompetensi yang diajarkan. Untuk mengetahui apakah tujuan atau kompetensi yang dikehendaki sudah dikuasai siswa atau belum, dan seberapa besar tingkat pengasuhan tersebut, diperlukan pengukuran dan penilaian.
Ada beberapa teknik dan alat penilaian yang dapat digunakan sebagai sarana untuk memperoleh informasi tentang proses dan hasil belajar siswa. Penggunaan berbagai teknik dan alat itu harus di sesuaikan dengan tujuan melakukan penilaian, waktu yang tersedia, sifat tugas yang dilakukan tugas, dan banyaknya atau jumlah materi yang sudah disampaikan. Teknik penilaian dalam uraian ini secara garis besar meliputi 1. nontes 2. tes. Ada dua macam evaluasi pengajaran yaitu evaluasi hasil belajar bahasa Indonesia dan evaluasi proses hasil balajar bahasa Indonesia. Evaluasi hasil balajar bahasa Indonesia dapat diperoleh dengan menggunakan evaluasi berupa tes dan nontes.



DAFTAR PUSTAKA


Anas Sudjiono. 1994. Teknik Evaluasi Pendidikan-Suatu Pengantar, (jilid I & II), Yogyakarta: Sumbangsih Offset.
Nurgiantoro, B. 2001. Penilaian Dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra. Yogyakarta: BPFE.
Safari. 2002. Pengujian dan Penilaian Bahasa dan Sastra Indonesia. Jakarta: PT Kartanegara.


 
PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENILAIAN PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA SD/MI



Disusun oleh:
KELOMPOK VIII

EUIS AINI MUNASOFAH
UJANG ABDUL FATAH
RIDA SRI MAWADAH
YANTI LISDAMAYANTI

(Kelas/Ruang: Q/416)


PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2012

0 komentar:

Poskan Komentar