Minggu, 20 Januari 2013

Metode Pembelajaran-Discovery Approach


Pendekatan Discoveri (Discovery Approach)

a. Pengertian Pendekatan Discoveri (Discovery Approach)
Pendekatan (approach) lebih menekankan pada strategi dalam perencanaan. Dalam suatu pendekatan didalamnya digunakan beberapa metode. Sedangkan dalam discovery approach ini, yang sering dipakai adalah metode eksperimen untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran.[1]

Menurut Sund discovery adalah proses mental dimana siswa mampu mengasimilasikan suatu konsep atau prinsip. Yang dimaksudkan dengan proses mental tersebut antara lain ialah: mengamati, mencerna, mengerti, menggolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan dan sebagainya. Dalam teknik ini siswa dibiarkan menemukan sendiri atau mengalami proses mental itu sendiri, guru hanya membimbing dan memberikan intruksi.[2]
Pendekatan discoveri atau discovery approach adalah pendekatan yang dipopulerkan pertama kali oleh Jerome Bruner. Pendekatan penemuan (discovery approach) sama dengan pendekatan inquiry (inquiry approach), tetapi menurut Dettrick, G.W. (2001) kedua pendekatan tersebut berbeda. Konsep dibelakang pendekatan penemuan adalah bahwa motivasi siswa untuk belajar sains akan meningkat apabila ia mempunyai pengalaman seperti yang dialami para peneliti ketika menemukan suatu temuan ilmiah. Agar siswa dapat menemukan sendiri ia harus melakukan proses mental seperti mengamati, klasifikasi, mengukur, meramalkan, dan menyimpulkan.[3]
Pendekatan discovery merupakan pendekatan mengajar yang memerlukan proses mental, seperti mengamati, mengukur, menggolongkan, menduga, menjelaskan, dan mengambil kesimpulan. Pada kegiatan discovery guru hanya memberikan masalah dan siswa disuruh memecahkan masalah melalui percobaan. Keterampilan mental yang dituntut lebih tinggi dari pada discovery antara lain: merancang dan melakukan percobaan, mengumpulkan dan menganalisis data, dan mengambil kesimpulan.[4]
Ada juga beberapa ahli pendidikan yang memandang bahwa pendekatan discoveri adalah suatu strategi dimana guru mengijinkan agar siswa melakukan penemuan sendiri informasi dalam suasana tradisional.[5]
Sebagian para ahli ada juga yang berpendapat, discovery merupakan suatu proses mental dimana anak atau individu mengasimilasikan konsep dan prinsip-prinsip. Discovery terjadi apabila siswa terlibat secara aktif dalam menggunakan proses mentalnya agar memperoleh pengalaman, sehingga memungkinkan untuk menemukan konsep atau prinsip.[6]
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pendekatan discovery adalah suatu pendekatan yang dimana siswa dituntut untuk melakukan penemuan sendiri suatu masalah dengan memerlukan
proses mental, seperti mengamati, mengukur, menggolongkan, menduga, menjelaskan, dan mengambil kesimpulan.

b. Kelebihan Pendekatan Discoveri (Discovery Approach).
Pendekatan Discoveri memiliki beberapa keuntungan, yaitu: 1) pengetahuan yang diperoleh dapat bertahan lebih lama dalam ingatan, atau lebih mudah diingat, dibandingkan dengan cara-cara lain, 2) dapat meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan untuk berpikir, karena mereka harus menganalisis dan memanipulasi informasi untuk memecahkan permasalahan, 3) dapat membangkitkan keingintahuan siswa, memotivasi siswa untuk bekerja terus sampai mereka menemukan jawabannya.
Pendekatan discovery (discovery approach) sebagai sebuah teori belajar yang dapat didefinisikan sebagai belajar, yang terjadi bila pelajar tidak disajikan dengan pelajaran dalam bentuk finalnya, tetapi diharapkan untuk mengorganisasikan sendiri. Sebagaimana pendapat Bruner, bahwa: “Discovery learning can be defined as the learning that takes place when the student is not presented with subject matter in the final form, but rather is required to organize in him self[7]

c. Implementasi Discovery Approach
Apabila dalam suatu proses pembelajaran digunakan pendekatan penemuan, berarti dalam kegiatan belajar mengajar siswa diberi kesempatan untuk menemukan sendiri fakta dan konsep tentang fenomena ilmiah. Penemuan tidak terbatas pada menemukan sesuatu yang benar-benar baru. Pada umumnya materi yang akan dipelajari sudah ditentukan oleh guru, demikian pula situasi yang menunjang proses pemahaman tersebut. Siswa akan melakukan kegiatan secara langsung berhubungan dengan hal yang ditemukan.
Dengan pendekatan penemuan ini dibedakan menjadi penemuan terpimpin (guided discovery) dan penemuan terpimpin yang kurang terstruktur (less structured guided discovery), dan penemuan bebas (free discovery).
Pada penemuan terbimbing guru mengemukakan masalah, memberi pengarahan mengenai pemecahan, dan membimbing siswa dalam hal mencatat data. Sebagai contoh dalam proses memahami struktur tubuh serangga, guru menyiapkan kaca pembesar dan sejenis kumbang. Siswa diminta mengamati kumbang dengan menggunakan kaca pembesar tersebut. Setelah beberapa lama mengamati, siswa diminta melaporkan kesimpulan dan hasil pengamatannya. Jika ditemukan perbedaan kesimpulan antara beberapa kelompok, dilakukan diskusi bersama untuk membahas permasalahan tersebut.
Siswa diberi kesempatan untuk mengulangi pengamatan secara lebih teliti sehingga pada akhirnya dapat dicapai kesepakatan mengenai penemuan mereka. Pada penemuan terpimpin yang kurang terstruktur guru mengemukakan masalah, siswa diminta mengamati, mengeksploitasi dan melakukan kegiatan untuk memecahkan masalah. Sedangkan pada penemuan bebas, dari memunculkan masalah sampai pemecahan masalahnya dilakukan sendiri oleh siswa. Penemuan bebas ini pada umumnya diarahkan bagi siswa yang lebih tua usianya dan lebih berpengalaman.[8]
Ada lima tahapan yang harus ditempuh dalam melaksanakan pendekatan discovery (penemuan) yakni: (1) perumusan masalah untuk dipecahkan siswa. (2) menetapkan jawaban sementara atau lebih dikenal dengan istilah hipotesis. (3) siswa mencari informasi, data, fakta yang diperlukan untuk menjawab permasalahan/hipotesis. (4) menarik kesimpulan jawaban atau generalisasi, dan (5) mengaplikasikan kesimpulan/generalisasi dalam situasi baru.[9]


[1] Nuryani R, Strategi Belajar Mengajar Biologi (Sains), (Malang; UM Press, 2005), hlm. 92
[2] Roestiyah. Strategi Belajar Mengajar. (Jakarta: Bina Aksara.1986), hlm. 20
[3] Nuryani R, op.cit.,hlm. 95-96.
[4] Sofa, Pendekatan Discovery, Inquiry Dan STS Dalam Pembelajaran Fisika (http:www.google.com, diakses 09 Oktober 2009)
[5] Oemar hamalik, Pendidikan Guru Konsep Dan Strategi (Bandung: Mandar Maju, 1991), hlm.136
[6] Mulyati Arifin,dkk, Strategi Belajar Mengajar kimia (Malang: UM Press, 2005), hlm. 125
[7] R. Levancois Guy. Ametembun, N. A, Psychology For Teaching/ Psikologi Untuk Mengajar.( Bandung: Intisari, 1986), hlm. 103.
[8] Nuryani r,Op.cit ., hlm. 96.
[9] Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran Untuk Membantu Memecahkan problematika Belajar dan Mengajar,(Bandung, CV Alfabeta, 2009), hlm. 197

0 komentar:

Poskan Komentar