Minggu, 27 Januari 2013

Metode Pembelaaran-CTL


HAKIKAT STRATEGI PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL

A.    KONSEP PEMBELEJARAN CTL
Pendekatan kontekstual (contextual teaching and learning) merupakan konsep belajar yang dapat membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat lingkungan hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannnya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. (Nurhadi, 2002)[1]
melalui pendekatan CTL, megajar bukan transformasi pengetahuan dari guru kepada siswa dengan mengahafal sejumlah konsep-konsep yang sepertinya terlepas dari kehidupan nyata, akan tetapi lebih ditekankan pada upaya memfasilitasi siswa untukmencari kemampuan untuk bisa hidup (life skill) dari apa yang dipelajarinya.
Contextual teaching and learning enables students to correct the content of academic subject with the immediate context of their daily lives to discover meaning. It enlarges tehir personal context furthermore, by providing students withfresh experince tahat stimulate the brain to make new connection and consecuently, to discover new meaning. (Johnson, 2002).

CTL adalah pembelajaran yang memungkinkan terjadinya proses belajar dimana siswa menggunakan pemahaman dan kemampuan akademiknya dalam berbagaikonteks dalam dan luar sekolah untuk memecahkan masalah yang bersifat simulatif ataupun nyata, baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama.
Pendekatan kontekstual sebagai suatu pendekatan pembelajaran yang memfasilitasi kegiatan belajar siswa untuk mencari, mengolah, dan menemukan pengalaman belajar yang lebih bersifat kongkrit (terkait dengan kehidupan nyata) melelui pelibatan aktivitas belajar mencoba melakukan dan mengalami sendiri (learning by doing).[2]
B.    KOMPONEN CTL
Komponen CTL menurut (Johnson B. Elaine, 2002), meliputi:
1)     Menjalin hubungan-hubungan yang bermakna (Making meaningful connections),
2)     Mengerjakan pekrjaan-pekerjaan yang berarti (Doing significant work),
3)     Melakukan proses belajar yang diatur sendiri (Self-regulated learning),
4)     Mengadakan kolaborasi (Collaborating),
5)     Berfikir kritis dan kreatif (Critical and creatif thinking),
6)     Memberikan layanan secara individual (Nurturing the individual),
7)     Mengupayakan pencapaian standar yang tinggi (Reaching high standar),
8)     Menggunakan assesmen otentik (Using assesment).

C.    KARAKTERISTIK CTL
Karakteristik pendekatan CTL ditandai oleh tujuh hal utama, yaitu:
1)     Konstruktivisme (Construktivisme),
2)     Menemukan (Inquiry),
3)     Bertanya (Questioning),
4)     Masyarakat Belajar (Learning Community),
5)     Pemodelan (Modeling),
6)     Refleksi (Reflection),
7)     Authentic Assesment.[3]

D.    SKENARIO PEMBELAJARAN CTL
Pada intinya pengembangan setiap komponen CTL tersebut dalam pembelajaran dapat dilakukan sebagai berikut:
1.     Langkah pertama, mengembangkan pemikiran siswa untuk melakukan kegiatan belajar lebih bermakna dengan apakah dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksikan sendiri pengetahuan dan keterampilan baru yang harus akan dimilikinya,
2.     Langkah kedua, melaksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiry untuk semua topik yang diajarkan,
3.     Langkah ketiga, mengembangkan sifat ingin tahu siswa melalui memunculkan pertanyaan-pertanyaan,
4.     Langkah keempat, menciptakan masyarakat belajar, seperti melalui kelompok diskusi, tanya jawab dan lain sebagainya.
5.     Langkah kelima, menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran, bisa melalui ilustrasi, model bahkan media yang sebenarnya,
6.     Langkah keenam, membiasakan anak untuk melakukan refleksi dari setiap kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan,
7.   Langkah ketujuh, melakukan penilaian secara objektif, yaitu melalui kemampuan yang sebenarnya pada setiap siswa.[4]



[1] h. 279
[2] h. 280
[3] h. 281
[4] h. 285-286

0 komentar:

Poskan Komentar